Dinamika Dunia Kerja

Lagi-lagi kudengar kalimat ini dari seorang atasan, “Beginilah dinamikanya bekerja. Kita harus menyikapinya dengan lebih dewasa.”

Kali ini dalam rangka pak bos akan dimutasi dan aku akan dapat bos baru.
Huhu… belum pernah sesedih ini ganti bos.

Kenapa ya?

Mungkin karena pak bos ganteng.

Secara profesional, sejak jadi PNS 3 tahun lalu, dialah bosku, ga ganti-ganti.

Awal-awal bekerja dia membekali dengan nasihat ‘kamu harus banyak belajar, kalau perlu sekolah lagi’. Weks,,, mo sampe botak kepala ini sekolah terus?

Lalu beliau selalu memberikan pekerjaan yang selalu membuat skill dan ilmuku bertambah. Even support untuk hal kecil, beliau tidak malu panggil aku dan meminta tolong.

Kemudian, (mungkin) dilihatnya aku semangat bekerja, ditawarilah pekerjaan lain di luar jobdesc-ku a.k.a pekerjaan yang terkait langsung dengan kegiatan bapakku yang adalah orang no. 2 di Indonesia.

Ketika aku (terpaksa) melepaskan tugas tambahan itu, beliau sangat menyesal. Sampai akhirnya beliau melibatkan aku dalam penyelesaian disertasinya. Lagi-lagi pekerjaan tambahan ini menambah wawasanku.
Wow… aku diundang ke sidangnya. Ketika pengumuman tak sadar aku ikut menangis haru melihat kelegaan dan kebahagiaannya bisa lulus menjadi Doktor.

Pasca melahirkan, beliau terus-terusan mengingatkanku untuk diet dan berolahraga. Haha… ga ada nih bos yang seperti ini. Mungkin karena dia ganteng, dia ga mau punya staf yang ga ok.

Saatnya tiba aku ditarik lagi ke tugas tambahan yang terkait langsung dengan bapak no.2 di Indonesia. Penyesalannya pun terbayar.

Akhirnya, hari ini beliau menunjukkan langsung undangan pelantikan mutasinya. “Meis, terpaksa kita pisah. Seandainya bisa saya tarik kamu jadi staf saya.”

Duh pak, cuma bisa bilang, “Sukses ya pak. Inilah dinamika bekerja. Saya pasti ga akan bikin malu bapak di depan bos baru. Saya bisa jadi anak buah yang handal siapapun bosnya. Semua motivasi-motivasi positif untuk kemajuan karir saya sebisa mungkin saya laksanakan. Semoga saya bisa sesukses bapak.”

ikemeiske