the DOs n Don’ts

Moral lesson of the week:
Everyone has his own value to make his life comfortable. We just need to respect it. So then we live in harmony… peace…

Tiba-tiba teringat sebuah kejadian beberapa waktu lalu. Seorang teman dari kantor lama dirawat di RS dan teman-teman berencana menjenguknya. Saya sudah pindah kerja, tapi saya masih diajak ikutan menjenguk. I said, “OK, miz u all.”

Ga berapa lama kemudian saya terlibat chatting dengan salah satu teman yang akan ikut juga.

Friend (F): Lu ikut juga nti sore?
Me (M): Yup, mungkin nyusul bareng suami. Lu ikut juga kan?
F: Tadinya sih. Tapi kalo lu ikut, mungkin gue tanya istri gue dulu deh.
M: Loh, kenapa?
F:  *nyengirnyengir ga mau crita*
M: O,,, I c… kalo gitu ajak aja. Gue kan juga bareng suami.
—– idle beberapa saat —–
F: Ke,,, kayaknya gue ga boleh ikut neh kalo ada lo.
M: Yah,,, kok gitu. Istri lo ga mau ikut aja?
F: Ga mau juga.
M: Ehm, baiklah… ada baiknya gue batal ikut aja. Titip salam aja y,,,
F: Yakin lo?
M: Yup. Daripada maksain malah bikin kacau rencana.
F: Sorry y, Ke.
M: Gpp, ngerti kok. Salam buat istri lo juga y,,,
F: Ok, next time kita arrange reunian lagi, kalo sikonnya pas.

Weleh,,, kenapa ya pakai dilarang begitu? Saya bersama suami dan ateman-teman lain, tujuannya menjenguk orang sakit. Istri yang ga rasional. She must be very jealous with me, haha…

Wait, don’t judge her too early, pasti istri teman saya punya alasan sendiri, mungkin bukan karena ga rasional. Atau bukan juga karena dia tidak percaya suaminya atau masih ingin mengungkit-ungkit masa lalu kami. Think positively saja, being jealous (for good reason), it’s normal, it’s so human being. Keberatannya disampaikan hanya untuk membuatnya nyaman, nyaman di hati dan nyaman di hubungan mereka.

Ga ikutannnnn!!!! Ngertiin posisi masing-masing saja. Mungkin saya akan berbuat hal yang sama bila ada di posisinya.

Jangan sampai karena merasa diri benar saya dilabrak istri orang lain. Rendah sekali harga diri saya kalau hal itu sampai terjadi. 1x terjadi, mungkin kesalahan saya masih fifty-fifty. Tapi kalau sampai berulang lagi, apalagi dilabrak dengan orang yang berbeda, wah,,, kayaknya saya yang harus koreksi diri. Duh,,, jangan sampai deh kejadian begitu.

Syukurlah, sampai hari ini kami tetap baik-baik saja. Ketika hubungan baik terjalin, rasanya hal-hal baik lain akan mengikutinya. Kami akan tetap berteman, pasangan masing-masing akan menjadi teman baru kami, kami tetap bisa saling tukar cerita, informasi, bahkan juga bantuan (tentunya dalam batasan yang tidak melewati standar masing-masing).

Indahnya dunia kalau masing-masing saling mengerti, tanpa selalu merasa diri benar.

Being a good friend, it is not about how many times you declare you are good enough. When you respect them, automatically your friends know you are good for them.

ikemeiske