Awas Kucing Hilang

Judul: Awas Kucing Hilang
Penulis: Rayni N. Massardi

Bermula dari membaca review buku ini di salah satu majalah wanita, saya tertarik untuk membeli dan membaca tuntas buku ini.

Ternyata harga buku ini cukup murah (menurut ukuran saya loh…). Sekitar 24 ribuan (maaf, daya ingat saya terhadap harga kurang detil).

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek – 13 cerita pendek – yang kesemua tokoh sentralnya adalah hewan. Ada Bonzo Anjing, Lady Kelinci, Surti Semut, Sinta Kucing, Suprit Kecoa, Melika Ulat, Sumalin Tikus, Snapi Kura-kura, Rodas Cicak, Hap Ayam, Pasukan Kutu, Rutina Lalat dan si Monster.

Sekilas seperti fabel. Menurut saya, buku ini tidak murni fabel. Ada interaksi antara hewan tersebut dengan lingkungan sekelilingnya di luar hewan-hewan, termasuk manusia.

Yang pasti ini buku bermutu. Indikatornya, saya sulit mencerna maksud di balik cerita-cerita tersebut, sama lelahnya saat menonton acara Mario Teguh, haha… (sekali lemot tetap lemot).

Ga penting komen barusan. :p

Kembali ke buku bermutu, setiap cerita pendek yang ada memang ingin menyampaikan pesan-pesan moral bagi kita para manusia, seperti, hidup itu berputar, ada kalanya kita jaya, namun di suatu saat kondisi itu berbalik 180 derajat.

Buku ini juga menambah wawasan saya di dunia sastra. Penulis, yang adalah istri dari pengarang Noorca M. Massardi, memiliki gaya bahasa berbeda dalam mengurai karyanya di buku ini, dalam tata bahasa Indonesia yang baik dan santun namun tetap segar untuk dibaca dan tidak terkesan ‘old-fashioned’.

Cerpen favorit saya adalah Cicak Rodas. Ga kebayang bila tiba-tiba di kamar ada kawanan cicak yang berbaris menyerupai bentuk hati. Saya tidak akan berpikir kalau ketua gank cicak itu lagi jatuh cinta pada saya dan menjadi tersanjung. Sebaliknya saya tidak akan mau lagi tidur di kamar itu karena saya pikir ada siluman cicak di kamar saya. Ngerrriiii….😀

ikemeiske