Hanya di Indonesia

Ini yang menarik tentang orang Indonesia. Terjadinya pada saat penukaran hadiah di swalayan. Ketentuan jumlah sticker dan hadiahnya sudah jelas dijabarkan di lembar penempelan sticker. Sticker-sticker ini didapat sesuai nilai belanja yang juga sudah ditetapkan dalam ketentuan.

Di kasir
Pembeli (P): “Mba… kok saya cuma dapat segini stickernya?” Si pembeli dapat 14 buah sticker.
Pelayan Kasir (PK): “Iya, Ibu belanja tujuh ratus ribu, setiap kelipatan belanja lima puluh ribu dapat satu sticker.”
P: “Perasaan sebelumnya saya belanja empat ratus ribu dapatnya lebih banyak dari ini.”
PK: (tersenyum)
Saya: (dalam hati) “Lebih banyaknya itu berapa buah, Bu? Ngarang aja neh. Coba dibaca dulu itu aturan di lembar penempelan stickernya.”

Di tempat penukaran hadiah
Suasana antri sudah dapat dipastikan sangat panjang.
Seharusnya yang mengantri dapat menciptakan suasana agar cepat-cepat menyelesaikan antrian. Tapi…
Ibu (I): “Mba,,, aku mau boneka yang ini. Tapi stickernya masih kurang.”
Pelayan Toko (PT): “Belum bisa, Bu. Stickernya masih bisa ditambah kok. Ibu belanja aja, hari ini terakhir pembelanjaannya.”
I: “Yah… harus belanja ya? Ga bisa segini aja ya mba? Kan cuma kurang sedikit. (memelas)”
PT: (menggeleng dan tersenyum)
Saya: (dalam hati yang dongkol) “Dibaca dong aturannya di kertas penempelan! Ga tau apa ini antrian udah panjang banget!”

Ampun deh orang-orang ini. Sudah ada aturan yang jelas, masih saja coba-coba menawar. Bukannya berpikir bagaimana caranya memenuhi ketentuan. Belanja kek, minta ke orang kek, malah memelas di tempat penukaran hadiah, cuma panjang-panjangin antrian, buang waktu orang lain.

Andai saja ‘bargaining power‘ yang kuat ini diimbangi usaha yang lebih besar dan tepat serta taat aturan, pasti hasilnya juga lebih tertib dan tidak merugikan banyak orang, bahkan mungkin manfaatnya dirasakan oleh orang lain.

Dan komentar suami saya, ‘Ini cuma ada di Indonesia’.😀

ikemeiske