Kejadian Siang Ini

Siang ini saya makan siang di gedung stasiun tv, yang letaknya di seberang kantor saya. Saya pergi bersama dua orang teman.

Dalam perjalanan pulang, mendekati gerbang keluar, kami berpapasan dengan seorang perempuan tua, rambutnya sudah didominasi warna putih, dikuncir namun tidak rapi, mungkin akibat tiupan angin dalam perjalanan. Perempuan ini membawa sebuah tas di bahu, mengenakan blus putih dan rok pendek biru tua.

Dia menegur kami. Caranya menegur mengagetkan kami. Spontan saja saya memberikan tangan seperti menolak seorang pengemis.

Perempuan ini dengan gaya bicara yang masih terdengar mengagetkan melanjutkan sapaannya, “Maaf ibu, saya hanya mau tanya masuk ke gedung ini. Ibu-ibu kerja di sini?”

Masih dengan ekspresi kaget, kami menggeleng.

Dan perempuan itu melanjutkan kata-katanya, “Ya sudah kalau gitu. Saya hanya ingin tanya, ibu ini langsung kasih tangan nolak.” Lalu menunjuk saya.

Kami berlalu saja. Tidak juga bersikap lebih ramah.

Tetapi terbersit juga di hati saya rasa tidak enak karena reaksi reflek saya tadi. Saya sudah salah sangka duluan. Mungkin perempuan itu tersinggung. Tapi saya punya alasan atas tindakan saya tadi:

  • Gaya perempuan itu mirip dengan gaya seorang perempuan yang sering beredar di depan gerbang kantor saya, yang memiliki modus meminta paksa uang untuk transpor. Bila kami tidak memberi, dia memaki. Sudah banyak orang jadi korbannya, termasuk saya. Saya memilih menghindar atau mengurungkan niat keluar gerbang kantor bila dari kejauhan perempuan ini sudah kelihatan batang hidungnya.
  • Lagi-lagi kejadian di depan kantor, beberapa teman sudah jadi korban penjambretan. Modusnya sama, si jambret mengendarai motor dan mengincar teman-teman yang baru turun bajaj atau berdiri di trotoar. Bahkan saya pernah melihat sendiri penjambretan itu pada sebuah bajaj yang masih melaju kencang.

Pelaku kejahatan itu berani beraksi di depan kantor saya yang memiliki keamanan berlapis. Apa tidak mungkin mereka akan lebih ‘ganas’ di lokasi yang lebih jauh?

Tetapi dengan kejadian siang ini, saya justru mempertanyakan apakah memang keadaan sudah semakin jahatnya sehingga saya (mungkin yang lain) terbiasa dengan tindakan super waspada? Ataukah saya (mungkin yang lain) mulai menjadi bagian dari ‘si jahat’ itu, yang sudah terbiasa dengan penilaian negatif tentang seseorang tidak dikenal yang menegur kita, bahkan hanya sekedar untuk bertanya atau meminta bantuan kecil?

😦

ikemeiske