Filosofi Pohon Karet

I think this is the hardest lesson of life for me, forgiveness. But I will not give-up.

Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;
kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah.
1 Korintus 4:12b-13a

Apa yang paling berharga dari pohon karet? Getahnya! Dari getah tersebut rupa-rupa manfaat dinikmati umat manusia: karet gelang, bola, dan ban mobil adalah contoh benda-benda yang dibuat dengan bahan dasar karet. Seorang kawan dari Belanda pernah berkisah bahwa saat Perang Dunia II, Belanda kehilangan Hindia Belanda (sebagai wilayah jajahan) dan seluruh hasil buminya, termasuk karet. Konon, karena sama sekali tidak ada karet, sebagian orang terpaksa membuat roda sepeda dari kayu.

Guna mendapatkan getah yang berharga itu kita harus “melukai” pohon dengan menyayat batangnya. Dari hasil “luka” tersebut, keluarlah getah yang sangat besar manfaatnya. Agar memperoleh hasil yang berkelanjutan, proses “melukai” batang pun dilakukan terus-menerus. Inilah filosofi pohon karet: dilukai, tetapi malah mengeluarkan hal yang berharga. Demikian pula seharusnya sikap hati umat kristiani. Paulus telah meneladankannya dengan sangat baik. Ketika dimaki, kita memberkati; ketika dianiaya, kita sabar; ketika difitnah, kita menjawab dengan ramah. Betapa elok jika sikap ini dapat dipancarkan oleh setiap kita yang percaya kepada-Nya.

Ketika dilukai, mari belajar melepaskan pengampunan, bukan dendam dan dengki. Belajar dari pohon karet, saat dilukai, kita justru bisa   mengeluarkan hal-hal yang berharga: berkat, ucapan ramah, kesabaran dan sebagainya. Maukah Anda memulainya?

Viona Wijaya/Renungan Harian

Pohon karet bisa mengeluarkan getah yang berharga kala dilukai. Terlebih lagi kita, yang diciptakan segambar serupa dengan-NYA.

ikemeiske